Tuesday 23rd October 2018,
Merpati.org

Cara melatih merpati balap untuk kolongan dan tinggian

Cara melatih merpati balap untuk kolongan dan tinggian

Cara melatih merpati balap untuk kolongan dan tinggian

Bukan lagi satu hal yang langka bagi pemain merpati tinggian baik kolong atau tomprang melatih merpati balap untuk dijadikan jagoannya, baik dilakukan
crossing atau langsung melatihnya untuk tujuan permainan tinggian.

Dan pendapat bahwa merpati balap dianggap memiliki kecepatan yang lebih kencang dari merpati pada umumnya sudah menj adi pendapat pasti di mata masyarakat.

Memang bila diterbangkan dengan cara sprint, tentu merpati jenis lain tidak dapat mengimbangi jenis ini. Namun keadaan akan berubah bila burung sudah terbang dalam ketinggian maksimal, langkah terbang merpati balap sprint akan tertinggal merpati jenis tinggian.

Dan shoot merpati balap yang dianggap kencang dan kasar dari arah depan, belum tentu juga berlaku dari arah atas burung. Tak jarang merpati balap sprint yang memiliki shoot kasar dari depan justru “memble” saat turun dari atas.

Terlepas dari semua itu, kali ini saya akan mencoba memberikan sebuah tips bila kita tetap berkehendak menerbangkan
merpati balap sprint untuk bermain tinggian.

Kriteria merpati balap




Yang pertama adalah jangan sampai kita salah pilih merpati balap yang akan kita gunakan untuk tinggian. Pillih yang mempunyai kecerdasan baik. Disamping itu pilih pula yang mempunyai leher kencang dan panjang.

Bagi sebagian pemain merpati balap sprint, burung dengan leher panjang akan menghambat laju burung. Memang kebanyakan merpati dengan lehar panjang akan terbang sedikit “mentul” dan terlihat ”nengul” dengan kepala terangkat, oleh karena itu jarang dipakai oleh pemain merpati balap.

Bila bahan telah kita dapatkan, saatnya melatih burung tersebut agar mampu terbang tinggi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah:

1. Pegangan burung

Pegangan merpati balap sprint biasanya cenderung kenyal padat dengan bulu rapat tidak terlalu tebal. Usahakan burung agar diet teratur untuk merampingkan
badannya. Memang saat dipegang burung tampak kurang fit seperti sebelumnya. Pegangan terasa ringan dan kurang kenyal. Namun hal ini dilakukan agar burung terbang tidak melaju kencang
kedepan tapi agar memudahkan
terangkat keatas. Untuk mendapatkan pegangan yang diinginkan,
maka dapat dilakukan penjemuran rutin dari pagi hingga
menjelang sore/”diklantang” (08.00-14.00) pada saat burung tidak ada jadwal terbang. Bila ada jadwal terbang, maka intensitas penjemuran dikurangi. Sebelum
dijemur jangan beri makan burung, sediakan saja air minum agar burung tidak dehidrasi. Pemberian
pakan lakukan sekali saja pada sore hari selesai latihan. Bila berat badan burung tidak berkurang, maka pada sore hari pemberian pakan dikurangi dari jatah biasanya.

2. Latihan




Setelah burung mendapatkan pegangan sesuai yang diinginkan, tiba saatnya melatih burung agar mampu terbang tinggi.
Kurangi lepasan burung secara individu, biasakan burung diberi partner terbang agar burung mempunyai naluri “gandeng”.

Gunakan pelatih yang mempunyai sifat “ngemong” dan mampu mengimbangi terbang burung yang kita latih. Setelah lepasan lebih dari 1 Km, amati gaya gandeng burung, apakah rapat, masih didepan ataukah dibelakang pelatih.

Bila gandeng rapat, amati finis burung. Jika “tarung/ngampat”, ganti pelatihnya. Jika finis masih tinggi, amati shoot awal burung. Bila burung mau turun “metil”, latihan dapat diteruskan.

Namun bila burung enggan “metil”, maka gunakan pelatih yang mau “metil”. Jangan sampai burung yang kita latih hanya terbang berputar-putar mengikuti pelatihnya.

Bila terbang didepan pelatih, amati apakah burung terbang didepan karena takut atau karena memang mempunyai langkah lebih panjang dari pelatihnya.

Bila terlihat takut, sebaiknya ganti pelatih. Bila langkahnya lebih panjang latihan dapat diteruskan bila finis masih tinggi. Jika “ngampat” maka ganti pelatih dengan burung yang mempunyai langkah lebih panjang.

Bila dibelakang pelatih, amati apakah burung mau turun “metil” atau hanya berputar-putar. Lanjutkan bila finis masih tetap tinggi dan mau “metil”.
Ganti pelatih bila burung hanya ngikut pelatih tak punya pendirian sendiri.

Atau dapat pula kurangi waktu penjemuran agar pegangan burung sedikit berisi kembali. Disamping kedua hal tadi, amati “keket” burung, bila burung diterbangkan saat “keket” kencang/ bagus finis tidak “ngampat”, latihan dapat diteruskan.

Namun bila terjadi ketinggian dan finis burung rendah, maka latih burung saat “keket” kurang kencang. Keadaan ini dapat diatur dan disesuaikan berdasarkan
waktu pencabutan telor. Ada pihak yang menyemprot bahu burung setiap malam hari bila burung selalu terbang “ngampat”.

Entah benar atau tidak pendapat ini karena saya pribadi belum pernah mencobanya. Bila tidak terbiasa tentu burung justru akan kedinginan dan jatuh sakit.
Pada intinya, apapun cara yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan hasil lebih baik tentu layak dicoba. Selamat mencoba
dan salam spekulasi.

Please follow and like us:

About The Author

Breeder Platinum Pigeon Farm, Praktisi permainan merpati kolongan di Jakarta, Aktif bermain dibeberapa kolongan seputaran jakarta dan bekasi. Selain aktif dilapangan juga aktif menulis artikel tentang Permainan merpati. CP: 081290596498

Leave A Response