Thursday 19th October 2017,
Merpati.org

Pentingnya Terjalin Ikatan Antara Praktisi Medis, Akademisi dan Hobiis Merpati

Mungkin banyak yang masih ingat, tentang kematian seorang gadis kecil di wilayah Tanjung Priuk Januari tahun 2012 kemarin. Gadis kecil yang di inisialkan bernama AS positif terkena Flu Burung. Berdasarkan penyelidikan epidemiologi ke rumah penderita dan lingkungan sekitar oleh Tim Terpadu Kemenkes dan Dinas Kesehatan setempat, diperoleh informasi bahwa yang bersangkutan sering dibawa ke bengkel tempat kerja kerabatnya (yang juga pasien positif flu burung) dimana terdapat peliharaan merpati, sering diajak ke peternakan burung merpati milik temannya, dan sering diberi makanan tanpa cuci tangan setelah memegang merpati.

Berkaitan dengan hal itu, Oktober tahun lalu salah satu member forum Merpati.Org yaitu mas A. Shiddiqi, diberi kesempatan menghadiri Konferensi Ilmiah Veteriner Nasional (KIVNAS) ke-12 Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) di Hotel Saphir Jogja. Dalam kesempatan itu beliau sempat berbincang dengan beberapa kenalan dokter hewan, juga Ketua Umumnya yaitu Drh. Wiwik.  Dalam perbincangan itu, beliau menyinggung tentang merpati yang memang dirasa selama ini para praktisi dan peneliti hanya melakukan penelitian tentang perkembangan virus dan bakterinya saja. Masih sangat minim dokter hewan di Indonesia yg mengkhususkan meneliti lebih jauh tentang merpati sampai seluk beluk perkembangan dan perawatannya.

Dalam perbincangan itu juga partisipasi para hobiis dalam memberi masukan kepada setiap dokter hewan sangat dibutuhkan. Kita selaku penggemar dan hobiis pecinta merpati tidak boleh sungkan atau takut jika ada perkembangan baru dalam dunia medis merpati dari para hobiis untuk memberikan informasi guna melakukan penelitian kerjasama dengan para praktisi, dokter hewan maupun akademisi.

Semua dianjurkan untuk saling terbuka, ketika ada penyakit yg mencurigakan kita diharapkan memberikan sampel² tertentu. Dokumentasi seprti foto ataupun video juga akan diterima. Demi kemajuan bersama.

Itu pesan khusus yang di dapat oleh mas A. Shiddiqi dari perbincangan di meja makan malam itu. Oleh karenanya, saat ini disamping beliau ternak, beliau juga melakukan beberapa percobaan-percobaan tertentu. Sampai saat ini beliau juga masih menjalin hubungan dengan beberapa teman dokter hewan dan akademisi untuk saling tukar pikiran.

Dari informasi yang diterima, salah seorang praktisi merpati dari Jogja yang akrab disapa Pakdhe Eka, pada awal tahun lalu memberikan beberapa sample burung sakit untuk diteliti di laboratorium. Bahkan kabarnya, proses penelitian itu sampai ke IPB. Pada waktu itu tim medis menemukaan 2 jenis varian virus baru yang belum diketahui spesifikasinya. Karena dalam ssatu merpati bisa terdapat 7 jenis virus dalam waktu bersaaman. 2 virus itulah yang belum teridentifikasi. Penelitian berdasarkan bangkai, isi tembolok, feses basah dan feses kering serta burung sakit juga burung dalam kandang yang sama tapi belum nampak sakit.

Tentunya, kita berharap ada kemajuan dalam hal perawatan merpati ketika para praktisi, hobiis, dokter hewan dan pihak akademisi bekerjasama untuk menjadikan hobi merpati sebagai hobi yang terjaga dan selalu termonitor dengan baik kesehatannya. Tentunya untuk kebaikan masyarakat  secara umum. Sehingga masyarakat mendapatkan informasi yang tepat guna mewaspadai efek dari pemeliharaan merpati.

sumber photo : http://www.pigeonrescue.org

 

Like this Article? Share it!

About The Author