Thursday 25th May 2017,
Merpati.org

Mengenali Flu Burung, Penularan dan Penyebaran.

Mengenali Flu Burung, Penularan dan Penyebaran.

Virus flu burung hidup di dalam saluran pencernaan unggas. Kuman ini kemudian dikeluarkan bersama kotoran, dan infeksi akan terjadi bila orang mendekatinya. Penularan diduga terjadi dari kotoran secara oral atau melalui saluran pernapasan. Orang yang terserang flu burung menunjukkan gejala seperti terkena flu biasa, antara lain demam, sakit tenggorokan dan batuk, tapi kondisinya sangat cepat menurun drastis. Bila tidak segera ditolong, korban bisa meninggal.




Seperti halnya influensa, flu burung ini sangat mudah bermutasi. Flu burung (H5N1) dapat menyebar dengan cepat diantara populasi unggas dengan kematian yang tinggi. Bahkan dapat menyebar antar peternakan dari suatu daerah ke daerah lain. Penyakit ini dapat juga menyerang manusia, lewat udara atau air yang tercemar virus itu. Orang yang mempunyai resiko besar untuk terserang flu burung (H5N1) ini adalah pekerja peternakan unggas, penjual dan penjamah unggas.

Secara umum, gejala klinis serangan virus itu adalah gejala seperti flu pada umumnya, yaitu demam, sakit tenggorokan, batuk, ber-ingus, nyeri otot, sakit kepala, lemas, dan dalam waktu singkat dapat menjadi lebih berat dengan terjadinya peradangan di paru-paru (pneumonia), dan apabila tidak dilakukan tatalaksana dengan baik dapat menyebabkan kematian. Tatalaksana tersebut merupakan tindakan pencegahan dan keamanan pangan asal unggas.




Unggas yang sakit (oleh Influensa A H5N1) dapat mengeluarkan virus dengan jumlah besar dalam kotorannya. Virus itu dapat bertahan hidup di air sampai empat hari pada suhu 22 derajad celcius dan lebih dari 30 hari pada nol derajad celcius. Di dalam kotoran dan tubuh unggas yang sakit, virus dapat bertahan lebih lama, tapi mati pada pemanasan 60° derajad celcius selama 30 menit. Virus ini sendiri mempunyai masa inkubasi selama 1–3 hari.

Virus ini selain dapat menular dari udara dan air yang terkontaminasi oleh eksudat atau feses dapat juga menular dari makanan. Sebagai contoh, ada penelitian yang menunjukkan bahwa kucing menjadi terkena infeksi ketika memakan ayam yang terinfeksi avian influensa. Dokumentasi lebih lanjut juga menunjukkan bahwa harimau mungkin telah terinfeksi dengan cara yang serupa karena diberi makan bangkai ayam yang segar dari suatu rumah jagal. Berdasarkan pada Laporan ini, kucing (bangsa kucing) sepertinya secara relatif peka terhadap strain H5N1 dan mungkin telah terkena infeksi setelah mengkonsumsi bangkai dari ayam terinfeksi.

#Kesimpulan

Bahan pangan yang dipanaskan dengan cukup seharusnya tidak mengandung virus AI yang dapat mengakibatkan penyakit pada manusia. Bahan pangan yang berpeluang besar mengandung virus adalah bahan pangan yang tidak diolah, misalnya daging unggas yang tidak dimasak dengan cukup (rare, medium ) dan telur mentah. Beberapa jenis pangan olahan di Indonesia diolah dengan proses pemanasan yang panjang, seperti rendang, balado, opor dan sebagainya, akan tetapi beberapa jenis lainnya rawan kurang pemasakan ( undercooked ) misalnya sate, daging ayam bakar, serta jenis makanan mentah seperti lalap, karedok dan sebagainya. Meskipun wabah flu burung bersifat fatal (mematikan), konsumen tidak perlu terlalu khawatir untuk mengonsumsi daging dan telur ayam. Virus AI akan mati akibat pemanasan pada suhu 56 °C selama 3 jam atau pada 60 °C selama 30 menit. Artinya, selama konsumen tidak memakan telur atau daging ayam dalam kondisi mentah, maka kecil peluang terinfeksi AI.

Disamping pemasakan yang tidak mencukupi, cara penanganan makanan yang buruk dapat meningkatkan kemungkinan berpindahnya virus AI dari satu sumber ke bahan pangan atau bahan pangan ke bahan pangan lainnya. Praktek sanitasi pekerja pengolah makanan yang buruk sangat berpotensi menularkan virus dari tubuh pekerja ke makanan. Penggunaan peralatan (talenan, pisau dan alat dapur lainnya) yang sama untuk menangani bahan pangan mentah dan bahan pangan yang telah dimasak dapat menyebabkan pencemaran silang yang mengakibatkan berpindahnya virus dari bahan mentah ke bahan matang. Akibat yang sama juga terjadi ketika bahan mentah dan bahan matang disimpan di dalam wadah yang sama meski secara bergantian. Pencemaran ini makin menimbulkan potensi bahaya penyakit pada manusia jika bahan pangan mentah tidak diolah lebih lanjut.

Oleh karena itu untuk menghindari keracunan oleh virus AI dalam bahan pangan dianjurkan 3 praktek pengolahan makanan yang baik yaitu Cook , Clean dan Separate (Masaklah, Bersihkan dan Pisahkan). Masaklah semua bahan pangan sampai benar-benar matang, bersihkan tangan dan semua peralatan yang digunakan untuk memasak, dan pisahkan bahan mentah dengan bahan matang.

#Sumber Literatur:
Disarikan dari tulisan Drh. Mohamad Riza Fahlevi M (2006)

#Sumber gambar : plgpos.blogspot.com

 

Like this Article? Share it!

About The Author