Sunday 22nd January 2017,
Merpati.org

[Liputan] Lapak Flamboyan Pondok Karya

 

Selalu menjadi hal yang menarik ketika mendengar sebuah lapak merpati tomprang, berdiri di tanah Jakarta.  Jakarta adalah ibu kota negara dengan tingkat kepadatan bangunan dan penduduknya yang sangat tinggi. Maka, berdirinya sebuah lapak merpati, yang memerlukan area luas tanah yang tidak sedikit, harga tanah yang selangit serta izin dari warga sekitar yang selalu sulit.

Tiba2 terdengar sebuah lapak diwilayah mampang sudah berdiri lebih dari satu tahun yang lalu. Posisinya menjadi sangat strategis karena berada di tengah kota Jakarta. Atas kebaikan salah seorang pendirinya, Tim Redaksi berhasil berkunjung dan meliput kegiatan disana.

Kami datang sore pukul 16.00 wib. Posisi lapak yang berada ditengah kota, mudah dijangkau dan tidak perlu waktu waktu lama untuk dicari. Dari jalur mampang belok kiri ke arah Bangka, menyusuri jalan yang tidak terlalu jauh, maka sampailah ditujuan.

Kami disambut baik oleh pemilik kandang Merah Kuning yang akrab disapa dengan panggilah Koh Ncust. Beliau ramah, dan mempersilahkan kami menikmati burung2 tinggi yang kebetulan sedang dalam lepasan latihan sore.

Beberapa rekan forum merpati.org yang saat itu menyempatkan datang adalah : mas Nurdinlatake, mas Tri (Tried Merpati), bang Yogas (yang jadi sulit dikenali dengan tampilan rambut barunya) dan mas Arul Suseno.

(Ki-ka : Tri (Tried Merpati), Wicaksono Dany, bang Unay, Koh Ncust, Bang Yogas, Nurdinlatake)




Sambil menikmati pertunjukan merpati-merpati tinggi yang sedang dilatih, kami berbincang banyak hal. Koh Ncust banyak menceritakan tentang awal berdirinya Lapak Flamboyan Pondok Karya, suka dukanya hingga pengalaman-pengalaman diganggu mahluk halus.

Lapak Pondok Karya dinamakan Lapak Flamboyan Pondok Karya, oleh salah satu pendirinya (Bang Kewoy) yang sudah almarhum, beliau meninggal dunia belum lama ini karena serangan jantung. Beliaulah yang banyak mendesign tentang logo dan sertifikat2 yang dikeluarkan ketika lomba. Walaupun sudah tiada, beliau meninggalkan banyak kesan kebaikan dilapak Flamboyan Pondok Karya.

Kata Flamboyan berasal dari sebuah pohon yang dibiarkan tumbuh besar yang berada tepat dibelakang kandang. Dulunya, sebelum menjadi lapak, lahan pondok karya banyak pohon lainnya dan juga diselimuti alang-alang. Banyak yang bilang angker, karena selama puluhan tahun tempat ini tidak terawat.

Atas ide dan inisiatif dari Koh Ncust, pak RT (R. Dadang Djatnika) dan beberapa rekannya, maka tempat yang angker dan menyeramkan itu dirubah menjadi lahan dengan tanah rata, sehingga tidak lagi menyeramkan.

Tanah yang awalnya setinggi pinggang, diratakan, diuruk, lantas didirikan awalnya hanya 4 bangunan yaitu Kandang Putih, Kandang Biru, Kandang Merah Kuning dan Kandang Hijau. Hingga beberapa bulan yang lalu, berdiri kandang Orange yang menurut informasi dari Koh Ncus, adalah pindahan dari lapak RRI yang belum lama ini dibubarkan.

Pada setiap pintu kandang, ada peraturan dari pemilik lahan yang di cetak tebal, diantaranya adalah peraturan yang melarang segala bentuk Perjudian, dan juga larangan penggunaan narkoba diwilayah lapak. Pemilik lahan (atau pihak yang dikuasakan dan bertanggung jawab terhadap lahan), sepertinya serius terhadap peraturan ini. Terbukti, malam itu ketika kami sedang bersantai, pemilik lahan memberikan teguran keras kepada kandang biru, karena kedapatan tidak menempel peraturan tersebut didepan pintu.

 

Kekurangan dari Lapak Tomprang Tarik Flamboyan Pondok Karya ini, menurut Koh Ncust diantaranya adalah lahan yang tidak terlalu luas. Rintangan kabel listrik didepan dan samping, untuk hal ini bahkan burung Koh Ncust yang cukup istimewa dengan karakter nge-L sempat menjadi korban, hingga tewas tersangkut kabel listrik. Disamping itu, tepat dibelakang kandang, ada Sutet. Jadi lewat sedikit saja, burung pulang dengan penuh resiko.

Tapi, diantara. Kekurangan itu, kelebihan dari lapak pondok karya juga tidak sedikit. Lapak berdiri diatas tanah pribadi milik pegawai negeri, sudah ada izin dari sang pemilik melalui pihak yang dikuasakan oleh sang pemilik. Lingkungan sekitar adalah komplek Polri, dan sampai saat ini selama setahun lebih, belum pernah ada komplain dari warga sekitar. Malah, seolah warga turut senang karena lahan angker telah berubah menjadi lahan yang dimanfaatkan.

Selain itu, Kepala Lapaknya sendiri, adalah ketua RT dilingkungannya (Bapak R. Dadang Djatnika), sehingga informasi yang sampai ke warga tentang lapak, bisa disampaikan langsung oleh bagian dari warga itu sendiri.

Jumlah kandang tidak terlalu banyak, menjadikan para pemiliknya lebih santai dalam melatih merpati. Koh Ncust mengatakan, di pondok Karya, lapaknya untuk Have Fun.

Bercerita sedikit tentang kandang Merah Kuning yang dipimpin Koh Ncust, ada merpati berwarna megan bernama Kusta. Kusta menjadi burung yang menarik perhatian kami Tim Redaksi, karena nama Kusta tercantum di beberapa sertifikat kemenangan dari lomba-lomba yang diadakan oleh Lapak Pondok Karya. Kusta adalah burung milik Koh Ncust, diceritakan bahwa karakter Kusta adalah burung yang mampu terbang ngelip. Untuk mendaratnya, Kusta terbilang biasa saja, yang istimewa adalah Kusta termasuk burung yang berani mutus duluan.

Kami berhasil mengabadikan photo Kusta, walaupun kata bang Yogas, hal tersebut belum tentu bisa dilakukan dilapak-lapak lain, karena ada mitos negatif tentang burung yang di photo. Untunglah, Koh Ncust termasuk pemain lapak yang moderat dan tidak percaya terhadap mitos-mitos tersebut. Sehingga Kusta bisa dikenal dan diketahui oleh orang banyak melalui photo nantinya.

(Kusta, dari Kandang Merah Kuning)

Setelah berbincang panjang lebar, kami pamit ketika waktu menunjukkan pukul 8 malam. Keadaan lapak masih ramai, pada jam segitu, belum menunjukkan tanda2 yang lainnya akan bubar pulang.

Diakhir, Koh Ncust memberikan kesempatan pada kami dan Forum Merpati.org untuk menggunakan kandang Merah Kuning sebagai Sekretariat Resmi Forum. Mungkin, nantinya akan banyak hal besar yang dibicarakan dari situ oleh orang2 yang peduli terhadap budaya seni merpati di nusantara. Tentunya, hal tersebut kami terima dengan suka cita. Kamipun sudah menyampaikan kepada Kepala Lapak mengenai hal tersebut, dan beliau terima dengan suka cita.

Liputan ini semoga mengobati kerinduan rekan-rekan pecinta seni merpati dinusantara, terhadap informasi dari lapak-lapak yang masih berdiri melestarikan seni merpati khas dari Indonesia ini. Semoga dikesempatan berikut, kami bisa menghadirkan liputan-liputan yang membuka wawasan dan bermanfaat bagi seluruh pecinta seni merpati. Salam hangat persaudaraan dan persahabatan, wassalam.

(Tim Redaksi Merpati.Org)

Like this Article? Share it!

About The Author