Sunday 22nd January 2017,
Merpati.org

Apakah Mungkin Menilai Kemampuan Merpati?

Menurut Breemen, apabila karena situasi tertentu ada keterbatasan untuk memilah burung yang baik, sedang dan boncos dengan menggunakan “dondang test”, tentunya masih ada kemungkinan untuk melakukan seleksi dengan melihat/meraba anatominya. Ada beberapa ciri merpati dimana seseorang dapat melihat dan merasakan mana burung yang baik dan mana yang boncos. Dari situ kita bisa memprediksi kualitas atau nilai seekor merpati. Namun demikian, Bremeen mengingatkan masalah ini sangat kompleks dan membutuhkan banyak latihan dan feeling yang baik. Pertama, burung yang bagus atau boncos tidak tergantung pada satu ciri tertentu yang berdiri sendiri tetapi merupakan gabungan dari seluruh “properties”. (cat: propertis adalah keseluruhan yang dimiliki oleh seekor merpati, baik yang terlihat/anatomi maupun yg tidak terlihat/mental bakat organ tubuh dll). Bagian tertentu dari seekor merpati ada yang sangat baik, bagian yang lain sedang-sedang saja, ada pula yang sangat jelek. Yang lebih penting lagi, ada propertis tertentu yang bisa berpengaruh terhadap kinerja merpati secara keseluruhan.

Sebagi contoh: Seekor merpati mempunya energy yang bagus, mata yg sempurna, kecepatan luar biasa, otot yang sangat baik, bulu hebat, dst..tetapi anatomi yang sempurna tersebut tidak akan punya nilai apa-apa sebagai racer manakala merpati tersebut memiliki gangguan liver (hati) karena pernah menderita penyakit tertentu sebelumnya. Ganguan liver ini tidak bisa dilihat dan tidak juga bisa dirasakan dan burung terlihat sangat sehat. Liver dapat diibaratkan seperti “tanki bensin” dalam kendaraan yang berfungsi menyimpan energy. Kalau tanki tidak bisa menyimpan energy dengan baik, maka burung akan cepat mengalami kelelahan. Burung seperti ini akan mudah hilang atau pulang terlambat. Oleh karenanya, kita akan menghadapi frustasi kalau kita hanya menilai kemampuan burung hanya dengan melihat matanya, otot, bulu, dll. Kita hanya akan bisa menilai kemampuan burung apabila kita mampu menilai keseluruhan “properties” merpati dengan banar.

Breemen mulai menilai merpati dengan melihat anatomi sekitar tahun 1943 dengan secara serius mencari tanda-tanda yang menunjukkan burung yang baik dan buruk. Breemen juha berusaha mencari jawaban standard anatomi burung yang baik seperti apa. Tapi ia mengakui mengalami kegagalan total. Menurut pengalaman Breemen, burung yang memiliki anatomi sangat bagus seringkali kerjanya memble, dan sebaliknya burung yang memenangkan lomba-lomba besar menunjukkan anatomi yang tidak normal yang lebih cocok untuk dijadikan burung kremes. (The beauty standard traits were often joined by a weak performance capacity, and the winner of big races often showed such exterior abnormalities that one would rather have called for the soup kettle)

Oleh karenanya Breemen menghentikan menilai merpati dengan cara demikian. Pada tahun 1957, Breemen mulai melihat bagaimana seharusnya anatomi burung juara. Sejak saat itu, Breemen tidak pernah lagi menilai merpati dengan melihat anatomi sampai dia telah memegang lebih dari 10 ribu ekor merpati.

Breemen tidak hanya menggrepe burung yang ada di kandangnya, tetapi juga burung-burung orang lain. Setiap pergi ke Hungaria atau negara lain, ia tidak pernah melewatkan waktu sedikitpun untuk tidak memegang burung yang terbaik. Menurutnya ini sangat penting. Kalau hanya meraba burung sendiri sebagai standard, maka kita akan menjadi buta. Pertama kita harus melihat burung orang lain, setelah itu baru burung kita sendiri. Kalau kita hanya menilai burung sendiri, maka kita akan menyimpulkan bahwa semuanya hebat, dan burung orang lain tidak ada yang lebih hebat. Akhirnya orang seperti ini akan menjadi orang yang narsis.

Itu sebabnya, setiap orang harus mencari kesempatan untuk melihat burung terbaik yang dimiliki orang lain. Tentu dapat dipahami bahwa tidak semua orang bisa mempelajari masalah ini dengan mudah. Memang ada saja orang-orang hebat yang memiliki feeling dan intuisi luar biasa (stock sense), dan ada orang yang berusaha dan berlatih dengan keras untuk meraih keberhasilan. Tipe yang kedua ini dicapai oleh siapa saja yang mau berkorban dan bekerja keras. (There will always be virtuosi with an extraordinary feeling and intuition, and also fanciers who by personal effort and exercise reach the top. The latter is possible for everybody who takes the trouble)

Dua belas atau tiga belas tahun yang lalu, Breemen bersama dengan Jan Aerts menulis sejumlah artikel untuk majalah “De Duif” yang mendapat sambutan sangat baik dari pemain merpati di Belgia dan Belanda. Pada bagian pengantar tulisannya mereka menulis: ” Very many fanciers have a blind trust in the opinion of diverse judges regarding their pigeons, and they do everything what they have been told. There are many quacks among these judges. Their knowledge contains too many subjective and on fantacy bordering elements which cannot be realized in practice” (Sangat banyak pemain merpati percaya begitu saja terhadap pendapat juru kir/evaluator yang berbeda-beda mengenai merpati mereka dan mereka melakukan segalanya yang telah dikatakan. Ada banyak kebohongan di antara juru kir. Pengetahuan mereka banyak mengandung elemen subyekif dan fantasi yang tidak mungkin dilaksanakan dalam praktek)




Seorang juru kir profesional yang sejati dimana penilaian dan sarannya burguna bagi para pemula, HARUS TAU BANYAK. Selain menguasai masalah teknis, juga harus memiliki sinopsis/rangkuman mengenai trah-trah burung yang ada. Yang paling sulit dalam mengevaluasi kualits merpati terletak pada kenyataan bahwa kemampuan seekor merpati tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan mata yang indah, otot dan sayap yang bagus, tetapi merupakan satu-kesatuan dengan bagian-bagian anatomi lainnya.

Adalah tidak mungkin ada merpati yang hanya memiliki properties yang bagus. Ada bagian-bagian tubuh yang sangat bagus, ada yang sedang, dan ada pula yang kurang bagus. Properties yang bagus sering kali tidak dapat terekspresi karana terhalang (counter action) oleh properties yang jelek. Sebagai contoh: seekor merpati yang punya kecerdasan dan kecepatan luar biasa, tetapi badannya terlalu berat tidak mungkin menjadi racer yg tangguh untuk lepasan jarak jauh. Sebaliknya, merpati yang kecerdasan dan kecepatannya sedang namun tidak memiliki hambatan (handicap), akan mampu mengalahkan merpati yang pertama dalam suatu lomba jarak jauh.

Pemain merpati yang tidak mampu membuat urut-urutan properties dari yang paling penting sampai yang kurang penting atau tidak mampu mengevaluasi properties tersebut akan membuat kesalahan yang fatal. Tapi ini bukan pekerjaan mudah, termasuk bagi pemain yang sudah pengalaman sekalipun. Selain itu, seorang pemain merpati juga harus menguasai secara dalam ilmu pengetahuan tertentu agar dapat meminimalisir kesalahan dalam melakukan evaluasi. Misalnya ilmu tentang hereditas/genetika. Breemen tidak percaya bahwa kinerja seekor merpati hanya ditentukan oleh ciri-ciri fisik bagian luar yang kasat mata, tetapi tentunya juga ditentukan oleh properties yang tidak terlihat namun sangat besar pengaruhnya terhadap kinerja.

Tidak penting apakah kinerja tersebut berasal dari kerja gen additive atau kombinasi gen tertentu. Yang penting berbagai macam metode breeding dan solusinya harus dikuasai. Demikian juga dengan siklus hereditas.

Dan setiap pemain merpati harus juga menguasai line breeding, blood rejuvenation/ peremajaan darah, inbreeding, heterogenous breeding, memperbaiki jika terjadi penyimpangan, dan karakteristik merpati yang diinginkan. Semua ini mutlak dikuasai kalau ingin mengevaluasi merpati secara benar agar dapat mengikuti jalur yang paling efektif.

Pemain merpati yang belajar mengevaluasi merpati hanya berdasarkan pengalaman satu sisi dan hanya berdasarkan pengalaman di kandangnya sendiri, biasanya saran-saranya/pendapatnya berlaku dalam kondisi tertentu saja karena cara pandangnya terlalu sempit. Seorang juru kir yang baik harus tau semua trah dan keluarga merpati yang umum dimainkan/digunakan oleh pemain-pemain kecil. Saran-sarannya hanya akan punya nilai kalau dia memenuhi syarat ini. Kesalahan membuat evaluasi tentu saja terjadi. Tidak ada seorang juru kir yang sempurna. Bahkan orang yang punya feeling hebat sekalipun tidak mungkin bisa melihat seluruh aspek merpati. Menurut Breemen tingkat akurasi tertinggi adalah 80% untuk burung tua dan untuk burung mudah jauh lebih rendah.

Singkat cerita, seseorang bisa saja menilai seekor merpati tanpa harus melakukan “dongdang test”, tetapi dia membutuhkan sangat banyak pengetahuan. Bila seseorang berusaha untuk menimba ilmu yang dibutuhkan soal siklus hereditas berbagai macam karakteristik dan hubungannya satu sama lain, dan menguasai data mengenai populasi burung yang sekarang sedang beredar, dia akan dapat menjadi juru taksir yang baik di kemudian hari.

Penilaian anatomi bagian luar seperti kualitas otot bukanlah suatu misteri karena sudah banyak dibahas oleh para penulis. Kesalahan yang paling sering dibuat oleh para juru kir adalah mereka hanya melihat satu tanda saja dan menganggap telah mengetahui segelanya hanya berdasarkan satu tanda tersebut. Seorang pakar eye sign paling terkemuka abad ke-20 dari Jerman, Theodore Backs, dapat membaca kualitas merpati yang ada di kandangnya hanya dengan melihat eye sign. Observasinya mungkin benar untuk burung yang ada di kandangnya. Tetapi kesalahannya adalah dia menerapkan observasinya untuk semua burung.

Orang yang merasa paling yakin tentang hasil evaluasinya biasanya justru orang yang pengetahuannya terbatas. Sebaliknya, orang yang mengetahui banyak aspek ilmiah, semakin menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang harus dipelajarinya. Dia akan menjadi orang yang rendah hati. Seorang ilmuwan yang terkemuka akan menjadi orang yang rendah hati karena dia telah belajar betapa sedikit yang telah diketahuinya. Itulah yang dikatakan oleh Vermeyen: WE KNOW NOTHING ABOUT A PIGEON (KITA TIDAK TAU APA-APA TENTANG SEEKOR MERPATI)

Catatan:

Tulisan di atas sepenuhnya pendapat dari Steven van Breemen, bukan pendapat saya. Menurut saya, pendapat dan saran Breemen patut untuk direnungkan sebagai bahan introspeksi. Meskipun Breemen adalah pemain, peternak dan penulis buku dengan jam terbang lebih dari 50 tahun, dia mengakui bahwa menilai merpati dengan melihat anatomi bukanlah perkara gampang. Untuk bisa menilai seekor merpati dengan benar diperlukan syarat-syarat yang berat seperti pengetahuan yang dalam metode breeding, ilmu genetika, teknik evaluasi, pengetahuan tentang trah setiap burung/keluarga burung, hubungan satu properties dengan properties lainnya, dll seperti sudah dijelaskan.

Kalau kita mau memilih merpati dengan berdasarkan rabaan, kita tinggal mengukur diri sendiri apakah kita sudah memenuhi syarat untuk menjadi juru grepe yang baik.

Salam

Like this Article? Share it!

About The Author