Friday 26th May 2017,
Merpati.org

Alat Navigasi Merpati Tinggian

Dari sekian hipotesan dan teori yang dibangun, teori medan magnet (magnetic field) adalah yang paling banyak didukung. Alasannya karena merpati pos tetap mampu pulang meskipun dilepas dari tempat yang sama sekali asing (belum dikenal). Konstruksi teori ini pada intinya berasumsi bahwa otak merpati pos mampu menangkap gelombang medan magnet yang dipancarkan oleh bumi (tanah) di sekitar kandangnya. Pancaran gelombang medan magnet itulah yang memandu merpati untuk pulang ke kandangnya. Sederhananya, kalau kita mendekatkan besi (logam) dengan magnet, maka besi atau logam tersebut akan tertarik ke arah magnet.

Seberapa jauh merpati pos bisa mendeteksi gelombang medan magnet yang dipancarkan oleh bumi di sekitar kandangnya, akan tergantung pada kekuatan medan magnet tersebut dan sensitivitas sensor otak untuk menangkap gelombang medan magnet.

Yang menjadi pertanyaan apakah merpati Indonesia yg digunakan untuk tomprangan (tinggian) juga menggunakan gelombang medan magnet untuk mencari rumahnya??? Kalau memang ya..seberapa sensitifkah sensor otak strain merpati Indonesia?? Yang jelas merpati jenis jawa sungut mempunyai daya ingat yang lumayan bagus. Bahkan kalau dijual masih bisa pulang dalam radius lebih dari 10 km.

Kalau memang strain merpati yang dipakai untuk main tinggian juga menggunakan alat navigasi medan magnet maka perlu ada “penyesuaian” dalam cara melatih burung tomprangan/ tinggian.
Agar merpati mengenali medan magnet di sekitar lapak, maka sebaiknya piyik yg sudah disapih langsung dipindahkan ke lapak sehingga pada saat dewasa dan mulai dilatih dia sudah merekam dengan baik gelombang medan magnet sekitar lapak di otaknya. Dengan demikian, maka tingkat kehilangan akan semakin kecil dan kinerja burung akan lebih baik karena benar-benar mapan selain sensor otaknya juga tidak kacau (bingung). Kalau kita perhatikan, main burung rumahan hasil ternak sendiri pada umumnya burung yang hilang lebih sedikit karena sangat mapan.

Pengalaman main di lapak dengan menggunakan burung yang dibesarkan di tempat lain, tingkat kehilangan cukup besar. Rata-rata sekitar 50% atau bahkan lebih. Kedua, banyak burung yang dipindahkan ke lapak/tempat baru kerjanya berubah. Mungkin saja ini disebabkan oleh adanya “kekacauan” dalam rekaman medan magnet di otaknya.

Tapi di sisi lain, kita juga melihat ada merpati yang relatif mudah untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru tanpa berpengaruh terhadap kinerjanya. Kenapa demikian????

Observasi saya sementara, kalau burung hasil ternakan di rumah dan dilatih di rumah yang sama sampai dewasa maka akan lebih sulit untuk menyesuaikan diri di lingkungan yang baru. Dugaan saya, rekaman gelombang magnet yang ada di otaknya sudah sangat kuat. Sebaliknya kalau dari kecil sudah biasa pindah-pindah tempat, akan mudah menyesuaikan di tempat yang baru karena rekaman gelombang magnet di otaknya belum terlalu kuat. Kerugiannya, sensor otaknya akan kacau karena terlalu banyak mendapat input. Mungkin saja ini akan berpengaruh terhadap kinerja.

Kesimpulan saya, mungkin akan lebih baik kalau piyik sejak dini sudah dipindahkan ke tempat dimana kita akan bermai . Kesimpulan kedua, lebih baik beli burung piyik (tentunya yg baik) daripada membeli burung jadi. Burung piyik yg baru dibeli ini langsung taruh di lapak.

Sekedar pikiran iseng saja daripada bengong

Mungkin kawan-kawan bisa menceritakan pengalaman masing-masing sebagai bahan analisa




Oleh:

Hermono

Like this Article? Share it!

About The Author